OpenAI kembali menjadi sorotan setelah celah keamanan di peramban Atlas memunculkan kekhawatiran baru soal serangan berbasis AI. Di saat alat bantu kecerdasan buatan makin banyak dipakai untuk menjelajah web, Neural Trust mengungkap bahwa Atlas—peramban buatan OpenAI—diduga rentan terhadap skenario prompt injection yang menyamar sebagai tautan aman di bilah pencarian atau omnibox.
Instruksi tersembunyi yang lolos lewat omnibox
Menurut Neural Trust, masalah muncul ketika Atlas menerima input yang terlihat seperti alamat web, tetapi sebenarnya disusun dengan format yang salah. Saat pengguna menyalin lalu menempelkan string tersebut ke omnibox, sistem disebut gagal memeriksa isinya secara memadai. Dalam kondisi itu, perintah yang seharusnya disaring justru berpotensi dijalankan.
Berbeda dari serangan injeksi yang biasanya menyusup lewat halaman web atau gambar, metode ini bergantung pada interaksi langsung dari korban. Artinya, pengguna harus lebih dulu menyalin URL palsu atau salah format tersebut, sehingga serangan tidak berjalan otomatis, tetapi tetap berbahaya karena memanfaatkan kebiasaan dasar saat mengakses situs.
Dua ancaman utama: phishing dan penghapusan data
Neural Trust menilai ada dua risiko terbesar dari celah ini. Pertama, serangan phishing melalui tautan yang membawa korban ke halaman tiruan untuk mencuri kredensial. Kedua, instruksi penghapusan data yang dapat membuat agen AI menjalankan perintah merusak, termasuk menghapus file penting di Google Drive.
Temuan itu juga menegaskan persoalan yang lebih luas dalam sistem peramban berbasis AI: batas antara input yang dianggap tepercaya dan konten yang belum tentu aman masih rapuh. Begitu validasi tidak berjalan ketat, satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi akses masuk bagi serangan yang menyasar akun maupun data pribadi.
OpenAI belum memberi jawaban
Register disebut telah mencoba meminta tanggapan dari OpenAI terkait temuan Neural Trust, namun hingga laporan ini dibahas belum ada respons. Sementara itu, Neural Trust mendorong beberapa langkah mitigasi, termasuk tidak kembali ke mode prompt, menolak navigasi jika proses penguraian gagal, serta memperlakukan prompt omnibox sebagai tidak tepercaya secara default.
Kasus ini menambah daftar peringatan bahwa integrasi AI ke dalam peramban web bukan cuma soal kecepatan dan kemudahan, tetapi juga soal siapa yang sebenarnya mengendalikan instruksi di balik layar.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


