Ambon pernah mencatat salah satu bencana paling mengerikan dalam sejarah Nusantara: tsunami raksasa yang disebut mencapai sekitar 100 meter pada 1674. Peristiwa itu bukan sekadar catatan lama di arsip kolonial, melainkan tragedi yang meninggalkan jejak kuat dalam ingatan sejarah pulau tersebut. Ribuan warga dilaporkan menjadi korban, sementara permukiman dan kehidupan di pesisir luluh lantak dalam hitungan saat.
Kesaksian Rumphius tentang malam kelam di Ambon
Catatan penting mengenai bencana ini datang dari Georg Eberhard Rumphius, ahli botani asal Jerman yang tiba di Ambon pada 1653. Ia sempat bertugas sebagai tentara VOC sebelum beralih menekuni penelitian alam dan budaya setempat. Dalam karya monumentalnya, Herbarium Amboinense, Rumphius turut merekam tragedi tsunami yang terjadi pada Sabtu malam, 17 Februari 1674 itu.
Dalam pengamatannya, air laut naik sangat tinggi dan menghantam Ambon dengan daya rusak luar biasa. Bencana tersebut bukan hanya menenggelamkan banyak orang, tetapi juga seolah menghapus jejak kehidupan di sejumlah kawasan. Gambaran yang ditinggalkan Rumphius menunjukkan betapa dahsyatnya peristiwa itu bagi masyarakat yang mengalaminya langsung.
Gempa, likuifaksi, dan longsoran pantai
Menurut BMKG, gempa Ambon 1674 tercatat sebagai bencana alam pertama dalam sejarah Indonesia. Gempa itu diperkirakan memiliki magnitudo M7,9 dan menimbulkan kerusakan besar. Getaran kuat memicu likuifaksi, yakni kondisi ketika tanah kehilangan kekuatannya dan seperti “menelan” benda-benda di atasnya.
Selain guncangan utama, longsoran pantai juga disebut ikut memperkuat gelombang tsunami. Kombinasi inilah yang membuat air laut melesat dengan ketinggian ekstrem dan menghantam wilayah Ambon secara brutal. Dalam konteks inilah, tsunami 1674 sering dipandang sebagai salah satu contoh paling awal dan paling jelas tentang bahaya tsunami yang dipicu longsor.
Jejak bencana yang masih relevan hingga kini
Peristiwa Ambon 1674 kerap dijadikan rujukan dalam memahami ancaman tsunami di Indonesia. Sejarah itu menunjukkan bahwa bahaya tidak hanya datang dari gempa besar, tetapi juga dari runtuhan lereng atau pantai yang menyusul setelahnya. Dalam banyak kasus modern, pola serupa tetap menjadi perhatian para peneliti kebencanaan.
Karena itu, tsunami Ambon 1674 bukan sekadar kisah masa lalu. Ia menjadi pengingat keras bahwa wilayah kepulauan seperti Indonesia menyimpan risiko bencana berlapis, dan peristiwa di Ambon tetap berdiri sebagai salah satu tragedi alam terbesar serta paling mematikan yang pernah tercatat di Nusantara.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


