Gelombang robot humanoid dari China mulai terasa bukan lagi sekadar pameran teknologi, melainkan sinyal perubahan industri yang bisa berdampak jauh lebih luas. Di Konferensi Robot Dunia 2025 di Beijing, para robot tampil dalam adegan yang dulu hanya tampak di film fiksi ilmiah: saling beradu pukulan di ring tinju, lalu berpindah ke permainan strategi Gomoku. Ajang ini memperlihatkan betapa cepatnya robotika China bergerak dari laboratorium ke panggung publik, dengan humanoid yang kian siap masuk ke ruang kerja dan kehidupan sehari-hari.
China unjuk gigi lewat skala dan paten
Menurut China Daily, skala konferensi tahun ini mencatat rekor baru. Sebanyak 50 produsen robot humanoid meluncurkan model dan solusi terbaru mereka dalam satu rangkaian acara. Angka ini mempertegas posisi China sebagai salah satu pusat pertumbuhan robotika dunia, didukung oleh pengajuan paten robot humanoid yang terus memimpin secara global serta investasi industri yang naik dari tahun ke tahun.
Di balik kemajuan itu, ada pula dorongan dari komponen inti yang sering luput dari perhatian publik. Pengusaha China, Liu Wuyue dari Link-touch, menekankan pentingnya sensor gaya dalam pengembangan robot humanoid. Perusahaannya mengembangkan teknologi sensor gaya enam dimensi yang disebut telah membawa lompatan signifikan bagi industri robotika China. Komponen semacam ini menjadi kunci agar robot tidak hanya bisa bergerak, tetapi juga merespons lingkungan dengan lebih presisi.
AgiBot incar Asia Tenggara, Indonesia masuk radar
Di tengah euforia domestik, perusahaan kecerdasan buatan AgiBot ikut menyiapkan langkah ekspansi. Perusahaan bernilai 15 miliar yuan itu kini membidik pasar luar negeri, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia. AgiBot baru saja membuka fasilitas produksi massal khusus pertama di Shanghai untuk robot humanoid, sebuah langkah yang menunjukkan keseriusan mereka memperluas skala bisnis sekaligus mempercepat distribusi produk.
Yao Maoqing, mitra AgiBot, menyebut strategi perusahaan tidak hanya bertumpu pada pasar China. Ia menilai produk yang berhasil di pasar domestik kerap punya peluang besar untuk diterima di luar negeri. Karena itu, AgiBot menyiapkan pendekatan lokal dan kemitraan dengan pemain setempat sebagai jalan menuju “globalisasi sejati”.
Isyarat persaingan baru di kawasan
Dengan kapasitas produksi yang makin matang dan ambisi ekspansi yang agresif, kehadiran robot humanoid China berpotensi mempercepat persaingan di pasar Asia, termasuk Indonesia. Apa yang dipamerkan di Beijing bukan lagi sekadar demonstrasi kemampuan teknis, melainkan gambaran arah industri yang kian serius menargetkan pasar internasional. Jika laju ini berlanjut, “banjir” robot humanoid dari China bisa menjadi kenyataan yang tak lama lagi dirasakan di kawasan.


