Galeri Ulos Sianipar, sebuah UMKM asal Sumatera Utara, tengah menghadapi tantangan rojali (rombongan jarang beli) dan rohana (rombongan hanya nanya), sehingga memutuskan untuk tidak terpaku hanya pada pasar lokal. Meskipun penjualan toko fisik masih menguntungkan, UMKM yang fokus pada penjualan ulos, songket, dan pakaian jadi dengan motif khas Sumatera Utara ini mulai merambah pasar ekspor untuk meningkatkan penjualan.
Menurut Sales Galeri Ulos Sianipar, Nelly, perusahaan sudah berdiri sejak 1992 dan berhasil melakukan ekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Zimbabwe. Ekspor dianggap sebagai solusi untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar domestik. Setiap negara tujuan ekspor memiliki preferensi produk yang berbeda, seperti konsumen dari Jepang lebih condong memilih produk turunan seperti pouch, tas, dan syal, sementara pelanggan dari Jerman lebih menyukai kain ulos dan produk wastra.
Untuk mempertahankan pasar luar negeri, Galeri Ulos Sianipar memastikan ketersediaan produk yang siap kirim kapan pun diperlukan. Di sisi lain, dalam menjaga pasar lokal, UMKM ini mengandalkan gabungan penjualan online dan offline. Meskipun penjualan online merupakan tren yang meningkat, penjualan offline tetap mendominasi karena banyak pelanggan setia yang lebih memilih belanja langsung. Namun, penjualan online melalui marketplace juga tetap menjadi fokus untuk memperluas cakupan pasar.
Dengan strategi ini, Galeri Ulos Sianipar berupaya membangun kehadiran online yang kuat sambil tetap mempertahankan loyalitas pelanggan offline yang sudah ada. Melihat potensi pasar ekspor yang luas dan pesatnya perkembangan penjualan online, UMKM ini terus berusaha memperluas jangkauan pasar dan memastikan keberlangsungan bisnisnya baik di dalam maupun di luar negeri.


