Lembaga Perlindungan Data Pribadi Hong Kong saat ini sedang menyelidiki dengan cermat kebocoran data yang melibatkan perusahaan Louis Vuitton. Insiden ini telah memengaruhi sekitar 419.000 pelanggan setelah serangan siber terjadi pada merek pakaian mewah tersebut di Korea Selatan pada bulan Juni 2025. Data yang bocor mencakup informasi sensitif seperti nama, paspor, alamat, surel, nomor telepon, sejarah pembelian, dan minat produk dari pelanggan.
Louis Vuitton telah mengakui insiden pembocoran data yang terjadi di kantornya pada tanggal 17 Juli 2025 setelah seorang inspektur di kantor cabang Prancis memperhatikan aktivitas mencurigakan di sistem komputer pada tanggal 13 Juni 2025. Penyelidikan terhadap Louis Vuitton Hong Kong juga sedang dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Data Pribadi Hong Kong untuk mengidentifikasi apakah ada keterlambatan dalam memberikan pemberitahuan terkait insiden ini.
Meskipun belum ada keluhan yang diajukan terkait peristiwa ini, kebocoran data yang terjadi merupakan dampak dari serangan siber sebelumnya yang terjadi di Louis Vuitton Korea. Sebagian data pribadi konsumen, termasuk informasi kontak, telah terungkap akibat insiden ini. Kabar ini menjadi perhatian serius bagi kedua perusahaan dan pihak berwenang di Hong Kong karena melibatkan informasi sensitif dari pelanggan.


