Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengekspresikan kekhawatiran terkait industri kelapa sawit Indonesia menghadapi tarif impor sebesar 32% dari Amerika Serikat. GAPKI mencatat bahwa ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke AS terus meningkat setiap tahun dan diperkirakan mencapai 2,2 juta ton pada tahun 2024, dengan pangsa pasar mencapai 89%. Tarif yang tinggi ini dapat berpotensi merugikan ekspor Indonesia, karena sulit untuk memindahkan pangsa pasar ke negara lain.
Peningkatan tarif impor juga membuat daya saing CPO Indonesia menurun dibandingkan dengan negara pesaing seperti Malaysia, yang hanya dikenakan tarif 25%. Di samping itu, sektor kelapa sawit Indonesia juga menghadapi berbagai beban seperti Domestic Market Obligation (DMO), pungutan ekspor, dan pajak ekspor. Semua faktor ini membuat industri kelapa sawit Indonesia semakin tertekan.
Kekhawatiran terhadap dampak tarif impor dari Amerika Serikat terhadap industri kelapa sawit dibahas dalam dialog antara Andi Shalini dengan Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dalam acara Squawk Box di CNBC Indonesia. Diskusi ini membahas secara detail bagaimana tarif impor tersebut dapat memengaruhi industri kelapa sawit Indonesia secara keseluruhan.


