Menurut Menteri Wihaji, sebanyak 20,9 persen anak di Indonesia tumbuh tanpa peran ayah, atau dikenal sebagai fatherless, yang dapat menghambat perkembangan emosi, sosial, dan kognitif mereka. Data dari UNICEF mengungkapkan bahwa alasan dari tidak adanya figur ayah bagi sebagian anak di Indonesia antara lain adalah karena perceraian, kematian, atau pekerjaan ayah yang membuat mereka harus tinggal jauh dari keluarga. Survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) juga menemukan bahwa hanya 37,17 persen anak usia 0-5 tahun dibesarkan oleh kedua orang tuanya secara bersamaan. Upaya untuk mendorong kehadiran ayah dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, Kemendukbangga/BKKBN meluncurkan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).


