DeepSeek AI kembali jadi sorotan setelah muncul dugaan baru bahwa modelnya meniru jejak keluaran Gemini untuk pelatihan. Meski belum ada bukti yang dianggap final, temuan itu memicu kembali perdebatan lama soal seberapa jauh perusahaan AI boleh “belajar” dari model pesaing. Di tengah persaingan yang makin ketat, isu ini bukan sekadar soal teknis, tetapi juga menyentuh batas etika, hak penggunaan data, dan transparansi dalam pengembangan kecerdasan buatan.
Jejak “pemikiran” DeepSeek dinilai mirip Gemini
Seorang pengembang lain dengan nama samaran, yang membuat evaluasi tentang “kebebasan berbicara” untuk AI bernama SpeechMap, mencatat adanya kemiripan pada “jejak” model DeepSeek. Yang dimaksud adalah alur “pemikiran” yang dihasilkan model saat bergerak menuju sebuah kesimpulan. Menurut catatan itu, pola tersebut terdengar seperti jejak Gemini, model AI milik Google.
Meski temuan itu belum bisa disebut bukti pasti, kemunculannya menambah daftar tudingan yang selama ini membayangi DeepSeek. Perusahaan asal Tiongkok tersebut sebelumnya juga kerap disorot karena diduga memanfaatkan output dari model AI lain untuk membantu pelatihan model mereka.
Bukan pertama kali DeepSeek dituduh meniru model pesaing
Pada bulan Desember lalu, sejumlah pengembang menemukan bahwa model V3 DeepSeek berulang kali mengidentifikasi dirinya sebagai ChatGPT, chatbot berbasis AI milik OpenAI. Temuan itu memunculkan dugaan bahwa model tersebut pernah dilatih menggunakan log percakapan ChatGPT, atau setidaknya terpapar data yang sangat mirip dengan hasil keluaran layanan tersebut.
Awal tahun ini, OpenAI juga mengatakan kepada Financial Times bahwa mereka menemukan bukti yang mengaitkan DeepSeek dengan penggunaan teknik distilasi. Teknik ini dipakai untuk melatih model AI dengan mengekstrak pengetahuan dari model yang lebih besar dan lebih canggih. Dalam praktiknya, metode ini memang dikenal efektif, tetapi juga sering diperdebatkan ketika menyentuh sumber data dan persaingan antarplatform.
Laporan Microsoft ikut memperkuat kecurigaan
Bloomberg kemudian melaporkan bahwa Microsoft mendeteksi jumlah besar data yang diekstraksi melalui akun pengembang OpenAI pada akhir 2024. Menurut laporan itu, OpenAI meyakini aktivitas tersebut memiliki kaitan dengan DeepSeek. Meski begitu, rangkaian temuan ini masih berada di ranah dugaan dan analisis teknis, bukan putusan hukum.
Kasus ini menunjukkan betapa sensitifnya persaingan di industri AI saat ini. Di satu sisi, pengembang berlomba menciptakan model yang semakin pintar dan efisien. Di sisi lain, setiap kemiripan output, pola jawaban, hingga jejak penalaran kini bisa menjadi bahan pemeriksaan ketat. DeepSeek pun kembali berada di pusat perhatian, bukan karena peluncuran fitur baru, melainkan karena pertanyaan lama yang belum benar-benar reda. Source link


