Maraknya penyalahgunaan kecerdasan buatan kembali memunculkan desakan agar Indonesia tidak terlambat menyiapkan pagar hukum. Sahroni menilai, perkembangan AI sudah bergerak terlalu cepat untuk dibiarkan tanpa aturan yang spesifik, terutama saat teknologi itu dipakai menipu, memanipulasi gambar dan video, hingga merusak nama baik seseorang.
Deepfake Jadi Alarm Serius
Menurut Sahroni, ancaman AI bukan lagi persoalan masa depan, melainkan masalah yang sudah terjadi di depan mata. Ia menyoroti kasus deepfake yang bahkan dialaminya sendiri sebagai contoh nyata betapa mudahnya gambar atau video dibuat seolah-olah asli. Situasi seperti ini, kata dia, membuat publik rentan terkecoh dan korban bisa menanggung kerugian di banyak sisi.
Ia juga menyebut AI telah dimanfaatkan untuk berbagai tindakan yang meresahkan, termasuk penipuan dan konten yang menghina presiden. Dari situ, Sahroni melihat ada pola penyalahgunaan yang semakin berani dan semakin sulit dibedakan oleh masyarakat awam.
UU Khusus Dinilai Lebih Tepat
Karena itu, Sahroni mendorong lahirnya undang-undang khusus yang secara tegas mengatur penyalahgunaan gambar dan video berbasis AI. Menurutnya, aturan umum yang ada saat ini belum cukup kuat untuk menjawab bentuk kejahatan digital yang terus berkembang. Tanpa regulasi yang jelas, siapa pun bisa memakai AI untuk merugikan orang lain dengan cara yang makin meyakinkan.
Ia menilai pembentukan payung hukum baru menjadi kebutuhan mendesak, seiring teknologi yang melaju jauh lebih cepat dibanding kesiapan hukum. Negara, kata Sahroni, harus hadir lebih awal agar masyarakat tidak terus menjadi sasaran konten palsu yang dibuat semakin rapi oleh mesin.
Perlindungan Publik Jadi Titik Utama
Gagasan UU khusus ini pada dasarnya diarahkan untuk memperkuat perlindungan publik. Sahroni ingin ada batas yang tegas supaya AI tetap dipakai secara bertanggung jawab, bukan berubah menjadi alat manipulasi, fitnah, dan penipuan digital. Dalam pandangannya, tanpa aturan yang spesifik, penyalahgunaan semacam ini akan terus berulang dan makin sulit dikendalikan.
Source link


