More

    7 Alasan Pengemudi Ojol dan Kurir Pantas Dapat THR

    Wacana pemberian THR untuk pengemudi ojek online dan kurir kembali menguat setelah gelombang desakan dari lapangan bertemu dengan respons pemerintah. Ratusan pengemudi ojol sempat menggelar aksi protes di depan Kementerian Ketenagakerjaan, menuntut agar ada regulasi yang jelas soal tunjangan hari raya. Suara mereka kemudian sampai ke Presiden Prabowo Subianto, yang ikut mendorong agar perusahaan aplikasi memberi bonus hari raya kepada para pengemudi dan kurir.

    Desakan dari Jalanan, Respons dari Istana

    Dalam dorongannya, Prabowo meminta perusahaan aplikator memberikan bonus Idul Fitri 1446 H/2025 M dalam bentuk uang tunai. Besarannya, kata dia, disesuaikan dengan keaktifan kerja masing-masing pengemudi dan kurir. Sikap ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah mulai memberi perhatian lebih serius pada kelompok pekerja berbasis aplikasi yang selama ini berada di wilayah abu-abu dalam hubungan kerja.

    Meski begitu, persoalan status hubungan kerja tetap menjadi catatan penting. Dr. Hempri Suyatna dari UGM mengapresiasi imbauan tersebut, meskipun secara formal para pengemudi ojol tidak terikat hubungan kerja langsung dengan perusahaan aplikasi. Menurut pandangan itu, kebijakan bonus hari raya tetap penting sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi para pengemudi dan kurir dalam layanan transportasi dan logistik harian.

    Bonus Dijanjikan Cair Maksimal H-7 Lebaran

    Pemerintah memastikan bonus THR untuk pengemudi ojol akan dicairkan maksimal H-7 Lebaran 2025. Tenggat ini menjadi penanda bahwa dorongan tersebut tidak berhenti sebagai imbauan, melainkan ditargetkan benar-benar hadir sebelum hari raya tiba. Presiden Prabowo juga menyarankan agar bonus tunai yang diberikan aplikator bisa beragam, menyesuaikan kemampuan dan kebijakan masing-masing perusahaan.

    7 Alasan Pengemudi Ojol dan Kurir Pantas Dapat THR

    Pertama, mereka bekerja langsung di lapangan dan menjadi ujung tombak layanan yang dipakai masyarakat setiap hari. Kedua, keaktifan mereka menentukan lancarnya transportasi dan pengantaran barang, terutama menjelang Lebaran yang biasanya lebih padat. Ketiga, penghasilan mereka sangat bergantung pada ritme kerja harian, sehingga bonus hari raya menjadi penopang yang nyata. Keempat, aksi protes di depan Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa tuntutan ini bukan sekadar keinginan, melainkan kebutuhan yang dirasakan banyak pengemudi. Kelima, dorongan Presiden Prabowo memberi legitimasi politik yang kuat atas aspirasi tersebut. Keenam, apresiasi dari kalangan akademisi seperti Dr. Hempri Suyatna memperlihatkan bahwa isu ini punya dasar sosial yang masuk akal. Ketujuh, pencairan maksimal H-7 Lebaran memberi harapan bahwa pengemudi ojol dan kurir bisa merasakan manfaatnya tepat saat kebutuhan meningkat.

    Berita Terbaru

    Related articles