Profil Nugroho Sulistyo Budi: Mantan Tim Mawar yang Kini Memimpin BSSN
Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Nugroho Sulistyo Budi sebagai Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pada Rabu, 19 Februari 2025, di Istana Kepresidenan Jakarta. Penunjukan ini menjadi sorotan karena Nugroho bukan hanya dikenal sebagai perwira tinggi TNI-AD, tetapi juga memiliki rekam jejak panjang di dunia intelijen dan komunikasi strategis. Pelantikan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 29P tahun 2025 yang dibacakan oleh Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kementerian Sekretariat Negara, Nanik Purwanti. Ia menggantikan Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian di kursi pimpinan BSSN.
Jejak Karier Militer Nugroho Sulistyo Budi
Nugroho Sulistyo Budi merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1991. Dalam perjalanan kariernya, ia menapaki sejumlah posisi penting hingga menyandang pangkat Letnan Jenderal TNI-AD. Pada usia 57 tahun, kenaikan pangkat tersebut ditetapkan melalui Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin/2662/XI/2024. Perjalanan militernya dimulai dari penugasan sebagai Dandim 0733/BS di Semarang pada periode 2009–2011 di bawah Komando Daerah Militer IV/Diponegoro.
Nama Nugroho juga pernah dikaitkan dengan Grup IV Kopassus Tim Mawar pada 1997–1998. Riwayat itu membuat sosoknya kerap dibaca sebagai figur militer dengan pengalaman lapangan sekaligus penugasan yang dekat dengan operasi strategis.
Dari Kodam hingga BIN
Setelah bertugas di lingkungan TNI, Nugroho kemudian dipindahkan menjadi Agen Madya BIN di Jawa Tengah. Kariernya di Badan Intelijen Negara berlanjut pada 2016 ketika ia dipercaya menjabat Direktur Komunikasi Massa Deputi Bidang Komunikasi dan Informasi BIN. Penunjukan itu tertuang dalam Keputusan Panglima TNI No. Kep/463/VI/2016. Pengalaman di bidang intelijen dan komunikasi inilah yang kini menjadi modal penting saat ia memimpin lembaga yang mengurusi keamanan siber dan persandian negara.
Pelantikan di Kabinet Prabowo
Dalam prosesi yang sama, Presiden Prabowo juga melantik Brian Yuliarto sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), menggantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro. Pelantikan dua pejabat tersebut menandai penataan ulang sejumlah posisi strategis di pemerintahan, termasuk sektor yang berkaitan langsung dengan keamanan digital dan penguatan sumber daya sains nasional.


