Nasib TikTok di Amerika Serikat kembali mendapat napas tambahan. Presiden terpilih AS, Donald Trump, disebut akan memberi waktu ekstra 90 hari agar aplikasi video pendek itu tetap bisa beroperasi di pasar Amerika Serikat. Informasi ini dilaporkan oleh South China Morning Post, dan keputusan resminya akan diumumkan bertepatan dengan hari pelantikan Trump sebagai Presiden AS ke-47.
Trump beri jeda, TikTok belum langsung ditutup
Tambahan waktu tersebut menjadi kabar penting bagi TikTok, yang sebelumnya berada di bawah ancaman penutupan jika induk perusahaannya, ByteDance, tidak melepas kepemilikan atas aplikasi itu kepada perusahaan asal AS. Kebijakan ini sejak awal dikaitkan dengan isu keamanan nasional, terutama soal pengelolaan data pengguna Amerika Serikat oleh perusahaan China.
Dengan adanya tenggat 90 hari itu, TikTok masih punya ruang untuk bertahan sambil mencari jalan keluar yang bisa diterima pemerintah AS. Langkah Trump ini juga menunjukkan bahwa nasib aplikasi tersebut belum final, meski tekanan politik dan regulasi masih sangat besar.
Respons TikTok dan jejak konflik yang sudah lama
CEO TikTok, Shou Chew, menyambut baik keputusan tersebut. Ia juga menyatakan komitmen perusahaan untuk bekerja sama dalam mencari solusi agar TikTok tetap tersedia di AS. Sikap itu menegaskan bahwa ByteDance masih berupaya menjaga akses jutaan pengguna TikTok di Amerika Serikat di tengah ketidakpastian yang sudah berlangsung lama.
TikTok sendiri telah menjadi sorotan sejak 2020, saat isu keamanan nasional mulai mengiringi operasionalnya di AS. Pemerintahan sebelumnya bahkan mendorong agar ByteDance menjual TikTok kepada perusahaan AS atau menghadapi penutupan. Kini, keputusan Trump memberi jeda baru, tetapi sekaligus menegaskan bahwa tekanan terhadap TikTok belum benar-benar mereda.


