Puasa Ramadhan kerap menjadi tantangan tersendiri bagi pasien asam urat, terutama saat pola makan dan asupan cairan berubah drastis. Di tengah kondisi itu, pemilihan menu sahur dan berbuka tidak bisa dilakukan sembarangan. Dokter menekankan, makanan rendah purin menjadi kunci utama agar kadar asam urat tidak mudah naik selama menjalani ibadah puasa.
Menu Sahur dan Berbuka yang Lebih Aman
Untuk orang dengan kadar asam urat tinggi, makanan yang dianjurkan saat sahur maupun berbuka adalah yang rendah purin, tinggi serat, rendah lemak, dan tetap membantu menjaga berat badan ideal. Kombinasi ini penting karena kelebihan berat badan dapat memperburuk risiko gangguan asam urat.
Beberapa pilihan yang dinilai lebih aman antara lain protein seperti ikan salmon, kedelai, dan telur. Dari kelompok buah dan sayur, ceri, jeruk, stroberi, serta sayuran hijau bisa menjadi pilihan. Meski sebagian sayuran hijau mengandung purin, penelitian menunjukkan kandungannya tidak berdampak besar terhadap asam urat dalam tubuh dan justru memberi manfaat yang lebih luas.
Karbohidrat Kompleks dan Susu Rendah Lemak
Selain protein dan buah, karbohidrat kompleks juga disarankan, seperti nasi merah, roti gandum utuh, dan pasta gandum utuh. Jenis makanan ini membantu tubuh tetap bertenaga tanpa membuat pola makan terlalu berat saat puasa.
Produk susu rendah lemak juga termasuk pilihan yang baik, misalnya yogurt dan keju. Sementara untuk minuman, air putih dan susu tanpa lemak atau skimmed milk dinilai lebih aman dikonsumsi saat sahur dan berbuka.
Asupan Cairan Jadi Kunci
Gladys menegaskan pentingnya menjaga kecukupan cairan selama puasa. “Penting untuk mengkonsumsi air putih kurang lebih 2 liter setiap hari. Hal ini mencegah terjadinya pemekatan kristal asam urat di ginjal sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit asam urat di kemudian hari,” pungkas Gladys.
Dengan kata lain, pasien asam urat bukan hanya perlu mengatur jenis makanan, tetapi juga disiplin menjaga hidrasi agar puasa tetap aman dan kondisi tubuh tidak mudah kambuh.


