More

    Kim Jong Un Ingin Menghancurkan Korea Selatan dan Amerika Serikat

    Kim Jong Un Kembali Naikkan Suhu di Semenanjung Korea, Sebut Korea Selatan dan AS sebagai Target

    Pernyataan keras Kim Jong Un pada awal 2024 kembali menempatkan Korea Utara di pusat perhatian dunia. Dalam pertemuan malam Tahun Baru bersama para perwira tinggi di Pyongyang, pemimpin tertinggi Korea Utara itu memerintahkan angkatan bersenjatanya untuk bersiap menghadapi Korea Selatan dengan langkah yang jauh lebih agresif. Ia bahkan menegaskan bahwa setiap provokasi dari Seoul dan Washington harus dibalas dengan “pukulan mematikan” yang, menurutnya, bisa memusnahkan lawan secara menyeluruh.

    Instruksi keras dari Pyongyang

    Kim Jong Un meminta militer Korea Utara mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki tanpa ragu sedikit pun. Nada pernyataannya menunjukkan bahwa Pyongyang tidak lagi sekadar mengandalkan retorika, tetapi ingin menegaskan sikap konfrontatif di hadapan meningkatnya tensi kawasan. Dalam pandangannya, kerja sama militer dan politik antara Amerika Serikat dan Korea Selatan sepanjang 2023 telah menciptakan ancaman yang semakin besar bagi negaranya.

    Di sisi lain, Korea Utara sendiri terus memamerkan kekuatan militernya melalui serangkaian uji coba senjata, termasuk rudal balistik antarbenua atau ICBM, serta penempatan satelit mata-mata di orbit. Rangkaian aksi ini mempertegas arah kebijakan Pyongyang yang kian keras dan sulit dibaca sebagai sinyal meredanya ketegangan.

    Tak ada lagi ruang untuk rekonsiliasi

    Dalam pembahasan kebijakan untuk 2024, Kim Jong Un dan jajaran pimpinan Korea Utara juga menyimpulkan bahwa hubungan dengan Korea Selatan telah masuk ke fase yang sangat berbahaya. Dari forum itu, Kim menyampaikan bahwa negaranya tidak akan lagi menempuh jalan rekonsiliasi maupun reunifikasi dengan Seoul. Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap yang tajam, mengingat isu penyatuan dua Korea selama ini kerap dijadikan simbol politik oleh Pyongyang.

    Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol sebelumnya juga menegaskan niat memperkuat kemampuan militer negaranya untuk menghadapi ancaman nuklir dari Korea Utara. Sejak 2022, Pyongyang tercatat telah melakukan lebih dari 100 uji coba rudal, dan situasi itu mendorong Amerika Serikat serta Korea Selatan memperluas latihan militer gabungan mereka.

    Merapat ke China dan Rusia

    Di tengah meningkatnya tekanan dari Barat, Korea Utara terus mempererat hubungan dengan China dan Rusia. Kedua negara itu diketahui memblokir upaya Amerika Serikat dan sekutunya di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperketat sanksi terhadap Pyongyang atas program senjatanya. Pada Hari Tahun Baru, Kim Jong Un juga bertukar pesan dengan Presiden China Xi Jinping sebagai bagian dari upaya memperkuat relasi bilateral.

    Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

    Berita Terbaru

    Related articles