Kamis, 7 Desember 2023 – 11:09 WIB
Gresik – Kasus perampokan yang berujung maut di Gresik, Jawa Timur, mengungkap pengakuan mengejutkan dari para pelaku. Penyidik Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Gresik menangkap lima orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan AS (30), warga Desa Pranti, Kecamatan Menganti, Gresik, yang ditemukan dengan kondisi pisau tertancap di mulut. Dari pemeriksaan awal, motif kejahatan itu disebut berawal dari tekanan utang dan keinginan untuk pulang kampung.
Motif Utang dan Rencana Bertemu di Gresik
Dua tersangka utama, IS (24), warga Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, dan HPS (23), warga Cerme, Kabupaten Gresik, disebut sebagai pelaku perampokan sekaligus pembunuhan. Sementara tiga orang lainnya, MAR, JDU, dan AS, berperan sebagai penadah barang hasil kejahatan. Ketiganya merupakan warga Jawa Tengah.
Kepala Polres Gresik Ajun Komisaris Besar Polisi Adhitya Panji Anom mengatakan, berdasarkan pengakuan IS dan HPS, aksi itu dilakukan karena keduanya terlilit utang. “Selain itu, IS mengaku ingin pulang ke Sumatera tapi tidak mempunyai uang,” kata Adhitya di Markas Polres Gresik, Rabu, 6 Desember 2023.
HPS juga mengaku semula tidak mengenal korban. Keduanya terhubung secara acak melalui Facebook, lalu mulai berkomunikasi. “Karena mencari acak di FB, dan melihat korban memposting tentang jasa pijet, akhirnya berkenalan,” ujarnya.
Dari Warung Kopi ke Rumah Korban
Dalam pemeriksaan, HPS mengatakan sempat mengajak korban bertemu di rumahnya, tetapi ajakan itu ditolak. Pertemuan kemudian disepakati di sebuah warung kopi di Gresik. Dari sana, HPS mengajak IS ikut bersamanya sebelum keduanya menuju rumah korban di Desa Pranti. Menurut pengakuan HPS, justru korban yang mengajak mereka ke rumahnya.
IS mengaku sempat masuk ke dapur dan memasak mi. Di tempat itu, ia menemukan pisau lalu mengambilnya dengan alasan berjaga-jaga. Namun, korban disebut menyadari gerak-gerik IS saat memegang pisau. Situasi pun memanas dan korban berteriak. “Spontan, dia bangun kemudian saya tusuk dengan pisau, tapi tidak mempan, kemudian refleks saya pukul dengan paving blok kepalanya,” ujar IS.
Barang Korban Dijual ke Penadah
Setelah korban tidak bergerak, HPS dan IS mengambil ponsel, sepeda motor, serta tas milik AS. Barang-barang tersebut kemudian dijual kepada tiga tersangka penadah. Polisi menyebut penangkapan pertama dilakukan terhadap MAR di Jawa Tengah. Setelah itu, IS diringkus di Tegal. Dari pemeriksaan terhadap IS, nama HPS ikut terungkap dan tak lama kemudian turut diamankan. Dua penadah lainnya, JDU dan AS, juga berhasil ditangkap.
Source: Istimewa.


